Tampilkan postingan dengan label general. Tampilkan semua postingan

8.9.14

Etika Dalam Memotret

Jumat lalu, bertempat di Pisa Cafe Menteng, saya berkempatan berbagi cerita mengenai komunitas Fotodroids dalam acara Smartfren bertajuk, #SmartHangout. Acara ini sebenarnya bisa dibilang community gathering yang diadakan oleh Smartfren.

Di sini saya diminta untuk berbagi emngenai smartphone fotografi dan komunitas Fotodroids. Selain saya, ada Bangwin yang berbagi mengenai landacape komunitas, khususnya komunitas digital. Tidak hanya jenisnya, namun juga bagaimana mengatur dan memanage komunitas yang baik.

Saat tiba giliran saya berbagi, ada satu pertanyaan menarik dari peserta, yang menanyakan soal etika memotret, khususnya di tempat publik. Jelas, karena jika menyangkut etika pasti bersinggungan dengan orang lain yang seringnya terjadi di ruang publik. Pertanyaan ini sebenarnya kurang tepat ditujukan ke saya, karena seperti kata teman di medsos, saya termasuk pemotret yang tidak beretika hehe...

25.3.14

Kamera Smartphone Terbaik...


Baru-baru ini pecinta smartphone-fotografi dihebohkan dengan Oppo Find7 yang memiliki kamera fake 50 MegaPixel. Seperti tidak mau kalah, HTC baru saja merilis HTC One New M8 dengan kamera Ultra Pixelnya. Kalau anda merasa ini teknologi tahun lalu, HTC berikan dua kamera utama sebagai sebuah peningkatan kuantitas.

Sebelum itu juga ada LG Pro G2 dengan teknologi OIS yang mengagumkan sayang kita agak kesulitan menggenggam smartphonenya, ada Nokia Lumia 1020 dengan kamera yang digadang-gadang terbaik walaupun kita gak tahu mau sharing ke mana fotonya, ada juga kamera 8MPnya iPhone 5S yang masih dianggap canggih oleh penggemar fanatiknya. 

5.3.14

Legography: When Lego Meet Mobile-Photography

Dari sebuah perangkat sederhana, seperti kamera Smartphone, banyak ide kreatif dan hal-hal menarik yang dapat Anda lakukan, salah-setunya seperti yang dikerjakan oleh Andrew Whyte.

Andrew Whyte adalah seorang fotografer yang berbasis di Inggris yang mengkhususkan diri dalam dramatic light art dan long exposure fotografi. Selama lebih dari setahun, Whyte telah memotret apa yang dia sebut "Legography", dengan 'bintang' utamanya adalah mini-figur Lego dengan kamera hitam dan gemar bereksplorasi. Ini adalah kisah perjalanan Whyte bersama mini-figur Legonya dalam mengeksplorasi kota London.

4.9.13

Memotret Bunga Dengan Smartphone


Bunga adalah objek yang paling sering dipotret, khususnya bagi yang baru belajar fotografi. Alasannya karena bunga adalah objek yang menarik dan cantik, namun tidak memerlukan make up, tidak murung atau mudah menguap. Dan tidak pernah terlambat untuk dipotret.

Selain itu bunga mudah untuk ditemukan, baik di taman, bahkan mudah dan murah ditemukan di toko-toko bunga. Bahkan setelah sesi pemotretan, kamu bisa bilang membelinya untuk pacar kamu. Semua orang akan senang. So, let's start.

1.7.13

Bercerita Dengan Diptych

Diptych (dibaca: diptik) berasal dari bahasa Yunani, yang berarti dua sisi. Biasanya objek yang memiliki dua sisi/bagian yang terhubung dengan engsel. Diptych sering kita jumpai pada objek atau prasasti kuno, termasuk pada bagian candi dan situs-situs kuno di Indonesia.

Posting tidak akan membahas mengenai asal-muasal Diptych, tapi bagaimana menerapkan Diptych pada fotografi, sehingga foto kita dapat lebih bercerita.

25.1.13

Menempatkan Skala Pada Foto Lansekap

Kita sering berpikir foto lansekap adalah foto pemandangan yang membentang luas di kejauhan, hamparan bidang bertebaran bunga, puncak-puncak pegunungan, langit di gedung pencakar langit dan bentangan lautan. Ketika kita berdiri di belakang kamera menangkap pandangan yang sangat indah, sangat mudah bagi kita untuk melihat dan memahami dimensi ruang lingkup besar dari apa yang kita lihat. Namun tidak mudah menerjemahkan dimensi tsb ke dalam foto, khususnya ketika nanti kita melihatnyadi layar komputer atau setelah dicetak.

8.7.11

Bangkitnya Era Photo Social Media [photosocmed]


Era Photo Social Media berawal saat transformasi digital pada fotografi. Saat itu tujuan awalnya sekedar sebagai media penyimpanan foto digital sekaligus gallery yang bisa digunakan untuk membagi dan menunjukan koleksi foto kita pada keluarga, kerabat, dan teman. Seiring dengan kepopulerannya, akhirnya berkembang untuk saling mengomentari, memberikan apresiasi terhadap karya seseorang dengan memberikan semaca reward kepopuleran pada sebuah foto. Secara tidak langsung membuat user semakin giat untuk membuat foto yang menarik. Ada juga yang menggunakan photo social media sebagai portofolio. Beberapa di antaranya yang cukup populer adalah Devianart, Picasa, Facebook, dan Flickr. Beberapa juga memberikan forum untuk selaing berinteraksi atau sekedar sharing.

1.2.11

Tiga Tipe Aplikasi Olah Gambar



Ada tiga tipe aplikasi fotografi di smartphone. Pertama aplikasi untuk mengambil gambar, kemudian mengeditnya. Kedua, aplikasi untuk mengedit gambar yg telah ada. Dan terakhir, adalah gabungan ke dua aplikasi tsb.


Kita akan coba bahas satu-satu, termasuk beberapa contoh aplikasi terbaik dari masing-masing tipe.


Take than edit
Aplikasi ini biasanya dipilih saat user ingin yg praktis dan sedang tidak ingin repot. Tinggal capture image, langsung pilih efek yg sudah disediakan. Atau sebaliknya, efek dipilih lebih dulu sebelum capture image. Biasanya hasilnya sudah langsung dapat dilihat sebelum di save. Kendalanya adalah saat kita simpan, foto tsb tidak bisa kita kembalikan ke default untuk diedit kembali.


Aplikasi jenis ini yg paling populer, antara lain Camera 360, FX Camera, Camera Zoom, dan Camera Retro.


Load than Edit
Hampir tidak ada perbedaan dengan kebanyakan aplikasi olah gambar yg ada di komputer. Foto atau image diambil dari media storage, lalu diedit.


Biasanya aplikasi serupa ini lebih berat, karena opsi pilihan untuk efek dan edit lebih lengkap. Aplikasi ini biasanya digunaan untuk memperbaiki hasil foto, atau menambahkan nilai artistik pada sebuah foto.
Untuk tipe ini, aplikasi yg tersedia sangat banyak. Namun yg paling sering digunakan android user adalah PicSay Pro, karena pengoperasiannya mudah dan cukup stabil berjalan diberbagai tipe android. Selain itu ada Pho.to Lab, dan Photo Effect yg hasil editnya detil dan cerah.



Take & Edit 
Aplikasi ini merupakan gabungan dari dua tipe di atas. Biasanya aplikasi ini merupakan aplikas capture image, namun dapan meng-import file dari media untuk diedit.


Biasanya antara fiture pengambil gambar dan edit gambar tidak selengkap ke dua tipe aplikasi di atas. Tapi bukan berarti hasilnya pas-pasan. Cek saja Vignette yg menjadi the best apps untuk tipe ini. Walaupun efeknya tidak sebanyak Camera360 atau PicSay, tapi memiliki detil gambar yg baik.



Terakhir beberapa tips & triks dari gw:
  1. Gunakan efek sewajarnya. Terlalu banyak menggunakan efek justru sering kali malah merusak foto.
  2. Ambil lebih dari satu kali saat memotret. Hal ini karena alasan pertama, sehingga kita dapat memilih mana gambar terbaik sebelum diedit.
  3. Simpan gambar terlebih dahulu sebelum diedit. Menghindari hasil edit yg pertama tidak sesuai harapan. Selain itu kadang satu foto bisa tampil dengan berbeda-beda, sesuai dengan efek yg digunakan.
  4. Miliki ke tiga tipe aplikas ini. Tidak ada tipe yg lebih baik, karena tiganya saling mendukung dan penggunaannya dapat dikombinasikan.




Selamat berburu aplikasi!

31.1.11

5 Reasons Smartphone Camera Better Than Digicam



Dulu gw termasuk orang yang konservatif. Gw gak suka konvergensi gadget. Itu alasan gw selalu pakai casual bag saat pergi ke mana-mana, sampai sekarang (jadi bukan karena gw dulu mantan tukang kredit ya). Isinya? Mulai dari iPod, hanphone, gps, buku, sampai digicam *kok bawa GPS segala??* Maklum, gw di Jakarta jg sering nyasar.

Back to topic. Gw berpikir kamera hanphone itu hanya untuk sekedar aksesoris saja, nilai tambah yg sebenarnya gak ada nilainya, selain sekedar menambah deretan fitur HP tsb. Karena secanggih-canggihnya camera hanphone, pasti digicam akan lebih canggih lagi.

Namun setelah gw kenal android dan menggunakan android, stigma gw dipatahkan mentah-mentah. iPhone4 jg bagus, sayang belum ada yg bersedia ngasih *mental gratisan*.

Ada 5 alasan kamera smartphone lebih bagus dibanding digicam:

1. Canggih
Dewasa ini kamera smartphone telah sampai pada tingkatan yg cukup tinggi dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Baik dari segi lensa, chip, prosesor, sampai aplikasi edit gambar.

Saat gw lihat foto-foto yang dihasilkan oleh smartphone, khususnya android dan iPhone4, gambar dan detil yang dihasilkan tidak kalah dengan digicam saat ini. Ini tidak lain karena dukungan OS mobile yang semakin canggih dan dukungan hardware yg berkembang dengan cepat. Sebut saja lensa kamera hanphone, yg walaupun statis, namun mampu menangkap detil gambar dengan bagus. Chip kamera juga didukung dengan prosesor besar, sehingga membuat setiap warna tampil dengan cerah. Belum lagi autofocus, yg bahkan bisa diatur jatuh fokusnya.

Kalaupun masih kurang, sudah banyak aplikasi edit foto yg begitu luar biasa bagusnya untuk mengedit foto. Hal ini yg membuat hasil foto-foto di smartphone tidak kalah bagusnya dengan digicam.


2. Easy
Di smartphone, semua dibuat untuk digunakan semudah mungkin. Mulai dari mengoprasikan kamera sampai menggunakan aplikasi-aplikasi fotografi, semua itu diatur secara auto.

Mungkin banyak dari kamu yg nyeletuk, 'digicam jg bisa auto setting'.

Nah, berarti kan tidak semua fitur dalam digicam (pengaturan ISO, Exposure, dsb.) kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari. Kalo gitu buat apa beli digicam kalo toh ujung-ujungnya kita menggunakan auto setting? Segala kecanggihan setting kamera (walaupun jg terbatas), menjadi mahal nilainya dibanding kamera smartphone.

Belum lagi ditambah berbagai aplikasi edit foto yg bisa digunakan di smartphone. Saat kamu punya digicam dan ingin mengedit foto tsb, kamu memerlukan komputer dan sedikit paham soal photoshop atau aplikasi sejenisnya di komputer. Bisa gw katakan aplikasi tsb tidak user friendly. Gw sudah sudah beli berbagai buku tutorial di Gramedia, tetap aja tiap mau edit foto selalu tertukar buka MS word.

Di smartphone, khususnya android dan iDevice, aplikasi edit foto yang disediakan begitu userfriendly dan banyak. Bahkan gak perlu pengetahuan khusus soal edit-mengedit, karena sudah ada template-template untuk setiap efek atau editan yang dilakukan, bahkan ada preview nya. Belum lagi foto-foto tsb dengan mudah dapat dishare ke internet dan socMed (social media). Seorang ibu rumah tangga pun dapat dengan mudah menggunakannya. Eh, kenapa mesti ibu rumah tangga? Emang ibu rumah tangga itu identik dg gak bisa apa-apa ya??
Ok, karena ada yg protes, jadi contohnya ganti jadi bapak rumah tangga saja. Sekarang jaman emansipasi *kalem*.



3. Spontan
Pernah alami suatu peristiwa yg istimewa atau langka, tapi gak bisa kita abadikan untuk dibagikan ke orang lain di kemudian hari?

Gw pernah. Waktu itu pas Jakarta gempa dan gw berada di lantai 32 Wisma BNI 46. Gw panik, soalnya semua benda terlempar. Cuma gw gak segokil temen gw yg langsung masuk ke kolong meja, sambil berujar, "ayo buruan sini, masuk kolong!"

Ok, kalo itu di rumah mungkin solusi bagus, tapi di lantai 32? Kalo runtuh, gak ngefek kali ngumpet di kolong meja.

Selain dia ada temen gw yg masih dengan santainya gulung kabel laptop dan suruh kita pada matikan listrik biar gak kebakaran *dang*

Tapi dalam hati gw berpikir, dua hal kontras ini pasti seru kalo bisa difoto. Gw nyesel banget gak bawa digicam (lagian orang gila mana yg bawa-bawa SLR/digicam saat ngantor sih??). Dan karena gak ada fotonya, boleh saja kamu beranggapan ini hoax.

Poinnya, bagaimana kita mau mengabadikan moment yg spontan dengan 'gear' yang gak spontan? Jawabannya sulit. Kecuali kalo kamu punya gear yg spontan.



4. Compact
Sampai saat ini semua handphone dapat disimpan di saku celana (kalo ada yg ngeluh handphone nya gak bisa disimpan disaku celana, mungkin kamu kebalik antara handphone dengan tablet). Digicam pun saat ini ukurannya semakin compact, malah beberapa ada yg lebih kecil dari hanphone dan gak kalah nyamannya disimpan dalam saku celana. Walaupun demikian, yg membedakannya adalah, kita tidak akan menyimpan digicam kita di saku celana sepanjang hari.

Barang-barang yang kita simpan dalam saku adalah barang-barang yg kita perlukan sepanjang hari dan mudah dijangkau saat diperlukan. Diantaranya dompet, kunci, dan gadget. Fungsi handphone yg merupakan konvergensi dari berbagai fungsi itu lah, yg membuatnya lebih nyaman dan compact di kantong sepanjang hari dibanding digicam.

5. Fun
Seperti telah disinggung di atas, kelebihan smartphone adalah mampu mengabadikan moment dalam berbagai situasi. Ini membuat banyak hal unik yg lebih mampu diakomodasi oleh kamera smartphone ketimbang menggunakan digicam.

Dan karena kemudahannya dalam sharing foto, kamera smartphone memberikan sebuah hobi baru. Salah-satunya mobile phone fotografi, di mana kita menggunakan kamera HP/smartphone kita untuk membuat foto yg menarik dan membagikannya ke komunitas kita. Sering kali foto tsb tidak sempurna (baca: tidak sesuai dengan kaedah-kaedah teori fotografi), tapi justru memiliki nilai artistik tersendiri *atau malah sok art?*.

Sebut saja @iphonesia dan @fotodroids, merupakan dua komunitas fotografi yg usernya menggunakan iPhone dan android untuk menciptakan foto-foto yg bagus. Hasilnya? Bisa dibilang istimewa dan fun. Lihat saja semua foto yg tampil dalam posting ini, merupakan hasil karya menggunakan android dan iPhone4.



Untuk bergabung dengan milis @fotodroids kamu bisa subscribe di fotodroids+subscribe@googlegroups.com/ Sedangkan @iphonesia dapat subscribe di iphonesia-subscribe@yahoogroups.com




nb. semua foto-foto yg ada di posting ini, diambil dari sini, sini, dan sini. Thx too @yopiesuryadi, @LeanNst, dan @johjuda.