Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

20.7.14

Acer Liquid E3: Kamera Smartphone Dengan Aperture Paling Lebar

Tahun ini tercatat sudah ada 4 produk smartphone Android yang diumumkan oleh Acer Indonesia, yaitu Acer Liquid E3 dan Liquid Z4 yang diluncurkan April lalu, dan Liquid E700 serta Liquid Z200 yang baru minggu lalu diluncurkan. Namun kali ini ada satu smartphone dari Acer yang akan saya review secara khusus karena diklaim memiliki keunggulan tersendiri dibanding dengan 3 produk Acer yang lain, yaitu Liquid E3.

Tentunya saat ini sudah banyak sekali review mengenai Liquid E3 yang beredar, namun khusus di review kali ini saya hanya akan fokus pada fitur unggulan dari smartphone ini, yaitu fitur kamera.

19.5.14

Street Photography dengan Ponsel: Sebuah Buku Protes Mengenai Fotografi

Bertempat di Galeri Jurnalistik Antara, sebuah buku mobile fotografi kembali diluncurkan. Buku dengan judul "Street Photography dengan Ponsel" adalah karya dari Paul Zacharia, seorang fotografer nasional yang kiprahnya sudah sering kita lihat sebagai juri di berbagai lomba dan karyanya di berbagai media, juga merupakan kontributor foto untuk sebuah majalah maskapai nasional yang cukup bergengsi.

31.1.13

Smartfren Andromax U: Dual Core, Dual On, Dual Camera!

Tanggal 31 Januari 2013, Memotret.com berkesempatan diundang Smartfren dalam rangka launching produk android generasi terbaru mereka, Andromax U. Andromax U bisa dibilang sebagai penerus dari Andromax I yang sudah lebih dulu hadir di Indonesia.

Sesuai dengan namanya, produk yang mengusung selogan dual core, doal on, dan dual camera ini menonjolkan kekuatan pada fleksibilitas jaringan, prosesor yang cepat dan handal, juga kemampuan kameranya.

12.12.12

Twitter Filter Foto untuk Android dan iOS



Akhirnya setelah Instagram menarik dukungan terhadap Twitter, Twitter resmi hadirkan filter fotonya sendiri. Dukungan yang dimaksud di sini adalah foto-foto Instagram sudah tidak dapat tampil di Twitter lagi. Jika sebelumnya dengan me-link/share update Instagram ke Twitter, maka secara otomatis foto tsb muncul di Twitter. Namun sepertinya tidak berlaku untuk twitter client, karena foto Instagram masih dapat muncul di TweetDeck.

24.2.11

Lomo A la Android: Action Snap v1.1 (bagian 2)




Sepuluh tahun belakkangan ini lomografi berkembang dengan sangat pesat. Tidak lain karena penggunaannya sederhana dan penggemarnya didorong memotret apa saja, di mana saja tanpa perlu pusing bagaimana hasilnya, make it fun. Hanya saja ini bukan hobi yang terbilang murah. Perlu dana khusus untuk film, mencuci/cetak foto-foto tsb, dan untuk memiliki beberapa jenis kamera Lomo yang berbeda fungsi.

Pada bagian awal pengantar Lomo a la Android, sudah saya bahas warna-warna dasar apa yang biasa muncul pada foto lomografi dan bagaimana membuat foto biasa menjadi foto Lomo secara manual. Tapi itu hanya karakter yang umum muncul pada Lomo tipe LC-A, yang paling umum digunakan. Padahal di Lomografi ada macam-macam jenis kamera untuk menghasilkan berbagai macam foto yang menarik.
Kali ini kita belajar mengenal dan memotret menggunakan dua jenis kamera Lomo, yaitu Actionsampler dan Supersumpler.

Apa itu Actionsampler dan Supersampler?


Actionsampler

Kamera ActionSampler menghasilkan foto yg terbagi menjadi empat bagian simetris (dua diatas dan dua dibawah) dalam satu kertas foto.

SuperSampler

Mirip dengan Actionsampler, kamera ini menghasilkan foto yang terbagi menjadi empat bagian dalam satu kertas. Namun, hasil dari kamera SuperSampler terbagi menjadi bagian-bagian yang sejajar.


Nah di Android juga bisa menghasilkan foto seperti ini. Caranya dengan menggunakan Aplikasi Action Snap, Versi 1.1.

Aplikasi yang baru launching awal tahun ini terbilang ringan, cuma 352KB. Bandingkan dengan aplikasi fotografi lain yang rata-rata di atas 1MB. Dan yang paling asik, aplikasi ini gratis!

Walaupun gratis bukan berarti hasilnya kacangan, malah justru sebaliknya, kecerahan dan komposisi yang dihasilkan sangat baik. Saya jarang mengedit kembali foto hasil Action Snap.

Terdapat pilihan mode normal, Actionsampler, dan mode supersampler. Itu pun masih dapat dikombinasikan dengan pilihan warna normal, sephia atau lomo. Untuk actionsampler dan supersampler dapat diatur intervalnya, mulai dari 0.1 detik sampai 5 detik.

Beberapa tips bermain dengan Action Snap
  1. Berbeda dengan aturan dasar fotografi (rule of thirds), kita justru pertama-tama harus menempatkan objek atau POI di tengah bidang kamera. Dikarenakan Actiondsampler dan Supersampler membagi foto menjadi empat bagian yang kecil.
  2. Coba bermain dengan sudut. Ini akan menimbulkan POI yang baru saat melihat hasil fotonya.
  3. Hasil Lomo lebih subjektif karena foto yang dihasilka kebanyakan kesan dan bukan pesan. Dibandingkan fotografi lain yang lebih realis, Lomografi cendrung abstraksi. Lupakan background, foreground, kedalaman dan POI. Semua itu bisa hilang atau tergantikan dengan POI yang lain setelah melihat hasilnya.


Dengan aplikasi sederhana seperti ini kita dapat bereksperimen dan membuat foto yg menarik, dan tidak kalah denga kamera Lomo.

Pro
- snappy
- menyenangkan
- good quality

cons
- menunggu untuk full versionnya yang lengkap dengan Colorsplash, Oktomat, dan Pop 9


Untuk aplikasi gratisan, Action Snap terbilang sangat sempurna. Nilai 4 dari 5.

1.2.11

Camera Retro (v. 3.4)


Sedikit tempat hangout di Banjarmasin, apa lagi buat yg senang berlama-lama di cafe. Entah itu untuk gebetin mba-mba barista *eh* atau seperti gw sekarang, bengong sambil nunggu pocong lewat.

Nah mumpung lagi bengong, gw keluarin android untuk cobain aplikasi yg baru gw download dari market. Namanya Camera Retro. Aplikasi pengambil gambar ini, mengaplikasikan keunikan yg terdapat dalam kamera-kamera retro.

Aplikasi ini termasuk yg favorit digunakan oleh android user, karena gratis, ringan, dan hasilnya bagus. Tapi beberapa waktu lalu, Urbian, developer Camera Retro, mengeluarkan full version dengan harga $2.99.

Pada dasarnya tampilan aplikasi ini unik. Soalnya saat mengambil gambar, bukan full view finder seperti padea kebanyakan aplikasi kamera lain. Yang ditampilkan malah body belakang kamera, lengkap dengan tombol dan aksesorisnya.


Ada empat tambahan kamera untuk efek foto yg berbeda-beda di versi berbayar ini, vintage vignetting, film scratch, black & white, dan cross processing. Masing-masing efek diwakili oleh empat jenis kamera; The Bärble (default), Littile Orange Box, Xolaroid 2000, Pinhole kamera, dan FudgeCan.


Menariknya masing-masing kamera memiliki 'camera fact'. Hitung-hitung kita mengambil gambar sambil mengenal kamera-kamera vintage. Ow iya, ada fitur kamar gelap jg loh untuk mencetak foto! Hanya saja yg dimaksudkan dg mencetak di sini, adalah menyimpa dan membagikan gambar ke pada teman.



Foto yg dihasilkan terbilang bagus, tapi memang tergantung dari cara kita mengambil gambar. Mengingat ini dibuat menyerupai kamera retro, itu artinya kamera di aplikasi ini punya banyak keterbatasan.



Camera Retro terbilang unik. Gw kasih nilai 4 dari 5. Selamat mencoba!